HumaNusantara.com
Fakta Terpercaya dari Nusantara

Bumi Panas, Hati Dingin

Agroekologi dan Harapan di Tengah Krisis Refleksi dari Tambun Bungai, Kalimantan Tengah

0

Oleh: Sani Lake

Pendahuluan: Ketika Bumi Makin Panas

Krisis iklim tidak lagi menjadi wacana masa depan, ia sudah mengetuk pintu-pintu rumah masyarakat adat, menyulut hutan-hutan dan meracuni sungai-sungai. Di Kalimantan, terutama di wilayah yang dihuni masyarakat Dayak, dampak perubahan iklim terasa sangat konkret, musim tanam menjadi tak menentu, kabut asap akibat kebakaran lahan menjadi musiman, dan sumber pangan lokal makin sulit diakses. Iklim berubah, tanah gersang, dan hutan kian terkikis oleh ekspansi industri sawit dan tambang serta berbagai proyek steagis nasional yang sedang diusung.

Namun, di tengah kepungan krisis dan panasnya bumi, masih ada hati-hati yang tetap dingin. Mereka yang tidak panik, tidak tergoda euforia teknologi, dan tetap teguh menjaga cara hidup yang berpihak pada alam, yaitu masyarakat adat Dayak. Mereka telah lama mempraktikkan agroekologi, bahkan sebelum istilah itu dikenal dalam literatur akademik. Kini, ketika dunia mencari solusi yang adil dan berkelanjutan, kita perlu menengok kembali pada mereka.

Agroekologi: Antara Ilmu, Praktik, dan Gerakan

Agroekologi adalah pendekatan holistik dalam sistem pertanian yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi dengan pengetahuan lokal, budaya, dan keadilan sosial. Ia bukan sekadar teknik bertani tanpa pestisida kimia, tetapi juga mencakup cara pandang terhadap alam sebagai mitra, bukan musuh. Agroekologi mengakui bahwa sistem pangan yang sehat tidak bisa dicapai hanya melalui input teknologi, tetapi melalui transformasi sosial, politik, dan budaya.

Menurut FAO, agroekologi melibatkan 10 elemen kunci, termasuk keberagaman, resiliensi, efisiensi sumber daya, dan keadilan sosial. Namun di luar kerangka teoritis, agroekologi hidup dan berkembang dalam praktik komunitas adat. Di Kalimantan, prinsip-prinsip ini telah lama menjadi bagian dari hidup masyarakat Dayak, mereka hidup dari, oleh, dan bersama alam, bukan di atasnya.

Warisan Agroekologi Masyarakat Dayak

Bagi masyarakat Dayak, bertani bukan hanya kegiatan ekonomi, tetapi ritual kehidupan. Huma, sistem ladang berpindah mereka, sering kali disalahpahami sebagai perusak hutan, padahal justru mencerminkan kearifan dalam menjaga kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati. Dalam satu petak ladang, bisa tumbuh puluhan jenis tanaman, padi gogo, ubi, jagung, kacang-kacangan, sayuran, bahkan tanaman obat.

Praktik rotasi ladang bukan bentuk pemborosan, melainkan cara menciptakan tunggul ekologi, yaitu lahan rehat yang akan pulih secara alami dan menjadi hutan muda (tembawang) sebelum digarap kembali dalam siklus waktu tertentu. Mereka tidak memusnahkan hutan, tetapi bersahabat dengannya.

Selain itu, sistem pengetahuan ekologis Dayak sangat terikat pada tanda-tanda alam, burung yang bernyanyi, embun di pagi hari, arah angin, dan posisi bintang menjadi penanda waktu tanam. Tempurung kura-kura yang digantung di depan pondok ladang dibunyikan sebagai sapaan kepada roh penjaga hutan, sebuah etika ekologi yang tak ditemukan dalam skema pertanian modern.

Ancaman Struktural: Kapitalisme Ekstraktif dan Peminggiran Pengetahuan Lokal

Sayangnya, praktik agroekologi ini terus berada dalam ancaman. Negara dan korporasi mendekati Kalimantan sebagai “ruang kosong” yang harus diisi proyek-proyek pembangunan. Hutan adat diganti konsesi sawit, tambang batu bara, dan proyek-proyek infrastruktur skala besar. Skema food estate, misalnya, yang diperkenalkan dengan dalih ketahanan pangan nasional, justru menggusur lahan dan sistem pangan lokal masyarakat Dayak.

Lebih dari sekadar alih fungsi lahan, yang terjadi adalah peminggiran sistem pengetahuan. Petani yang menjaga benih lokal dianggap “kuno”, digantikan dengan benih hibrida yang tergantung pada pupuk dan pestisida dari luar. Agroekologi yang semula menjadi praktik hidup, dipaksa tunduk pada logika produksi massal dan efisiensi pasar.

Dalam konteks ini, agroekologi bukan hanya pendekatan teknis, melainkan menjadi medan perlawanan. Perlawanan terhadap homogenisasi, terhadap pemusatan kuasa pangan, dan terhadap hilangnya kedaulatan masyarakat lokal atas tanah dan pengetahuan mereka sendiri.

Kekuatan Adaptasi dan Ketahanan dari Komunitas

Meski digempur berbagai tekanan, masyarakat Dayak menunjukkan ketangguhan luar biasa. Di beberapa wilayah, komunitas mulai membentuk sekolah agroekologi lokal, mengembangkan kembali benih-benih asli, memperkuat pasar komunitas, dan mendokumentasikan pengetahuan tradisional mereka. Sebagian menggabungkan pendekatan baru seperti pertanian regeneratif, sistem pertanian terpadu, dan pemasaran digital hasil bumi lokal.

Misalnya, di Kalampangan, Palangka Raya, sekelompok petani Dayak membangun greenhouse untuk konservasi benih lokal dan pelatihan anak muda tentang pertanian sehat. Di desa-desa lain, perempuan menjadi penggerak penting dalam menyebarkan praktik agroekologi, memperkuat jaringan pangan lokal, dan menanamkan nilai menjaga tanah kepada anak-anak mereka.

Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa agroekologi bukan hal yang romantis atau utopis, tetapi jalan nyata yang sedang dan bisa terus diperjuangkan.

Agroekologi dan Perubahan Iklim: Kontribusi Nyata

Agroekologi terbukti mampu membantu adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Dengan keanekaragaman tanaman, agroekologi memperkuat ketahanan terhadap cuaca ekstrem. Praktik tanpa pembakaran, penggunaan pupuk organik, dan pelestarian vegetasi hutan mampu menyerap karbon lebih baik daripada pertanian monokultur intensif.

Menurut sejumlah studi (Altieri & Nicholls, 2017), sistem agroekologi memiliki kapasitas menyerap CO₂ hingga 1-4 ton per hektar per tahun. Di samping itu, keberadaan agroekosistem lokal memperkuat relasi manusia-alam yang saling menjaga, bukan saling menguras. Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tawaran nilai, bahwa keadilan ekologis harus berjalan seiring dengan keadilan sosial.

Kesimpulan: Harapan yang Menyala di Tengah Bara

Di tengah bumi yang makin panas, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa masih ada hati yang dingin, bening, dan penuh cinta kepada tanah. Mereka bukan hanya korban krisis iklim, tetapi penjaga solusi. Agroekologi yang mereka wariskan bukan sekadar cara bertani, melainkan cara hidup yang memuliakan bumi dan menjaga masa depan anak cucu.

Jika dunia sungguh mencari jalan keluar dari krisis iklim, maka sudah saatnya suara dan praktik masyarakat Dayak dan komunitas adat lainnya ditempatkan di pusat, bukan pinggiran. Kita perlu belajar bukan hanya dari laboratorium atau konferensi global, tapi dari ladang, hutan, dan hati mereka yang tak pernah berhenti menanam harapan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.