HumaNusantara.com
Fakta Terpercaya dari Nusantara

“Manugal”, Ruang Politik Pangan dari Bawah

0

Oleh: Sani Lake

Pagi itu, sebagaimana biasa di musimnya, tanah masih hitam, hangat dan basah. Sisa bakaran semalam mengepul tipis seperti napas pelan dari Bumi Tambun Bungai yang baru dibersihkan. Di atas hamparan tanah hitam yang mengkilap, puluhan perempuan dan laki-laki Dayak Ma’anyan di Barito Timur, Kalimantan Tengah berjalan dalam barisan panjang, membawa tugal dan bakul benih. Gerak tangan mereka serempak, teratur, seolah-olah sedang menulis sesuatu di atas halaman Bumi Tambun Bungai yang terbuka.

Inilah manugal. Tradisi yang bagi banyak orang dianggap sekadar ritual kuno, tetapi bagi masyarakat Dayak hari ini, ia telah menjelma menjadi tindakan politik. Ia adalah deklarasi sunyi tentang siapa yang berhak menentukan hidup, memproduksi pangan dan menjaga tanah. Ia adalah bentuk paling murni dari People-Led Development di mana rakyat tidak menunggu arahan negara atau para supporter, tetapi memimpin sendiri jalannya kehidupan.

Bahasa Tanah dan Politik Tubuh. Di dalam bakul yang dibawa para perempuan Ma’anyan ada benih padi ladang tampak menggunung, dikelilingi mangkuk kecil berisi air dan arang. Detail-detail kecil itu bukan sekadar ornamen budaya, ia adalah bahasa. Bahasa tubuh, bahasa tanah, bahasa perlawanan.

Benih itu bukan sekadar sumber makanan. Ia sesungguhnya memuat memori ekologis, spiritual dan politik. Ketika negara menawarkan bibit hibrida yang cepat panen atau proyek pangan masif, sedangkan masyarakat Dayak mengangkat benih lokal sebagai pengingat bahwa mereka masih memegang kendali atas definisi hidup. Setiap tugal yang menembus tanah adalah keputusan tubuh, adalah pernyataan bahwa manusia tak boleh dipisahkan dari tanahnya.

Di ruang-ruang politik formal, orang menulis manifesto dengan kata-kata. Tapi di ladang Dayak, manifesto itu ditulis dengan benih.

Wacana “Pembangunan” yang Menyingkirkan. Selama bertahun-tahun, wacana dari negara dan korporasi menggambarkan ladang Dayak sebagai praktik “Tradisional”, “Tidak Efisien” atau bahkan “Perusak Lingkungan”. Bahasa itu membentuk cara pandang publik. Kata-kata yang tampak teknokratis sebenarnya bekerja sebagai alat kuasa, yang menentukan siapa yang diberi ruang dan siapa yang didepak dari peta pembangunan.

Namun di tengah krisis iklim global, justru praktik agroekologi masyarakat adat yang tidak menggunakan pupuk kimia, menjaga rotasi hutan dan merawat biodiversitas telah menjadi model pangan paling tangguh. Sementara proyek “Food Estate” di wilayah Kalimantan dan wilayah Indonesia lainnya justru diakui meninggalkan gagal panen, degradasi tanah dan hilangnya sumber air sementara padi ladang justru tetap bertahan.

Di sinilah wacana pembangunan diuji. Dan di sinilah ladang Dayak memberi jawaban paling jernih,
bahwa ketahanan pangan lahir dari kedekatan manusia dengan tanah, bukan dari mesin negara.

Ladang sebagai Ruang Politik dan Ruang Hidup. Manugal tampak seperti aktivitas biasa dimana ada puluhan orang bekerja bersama. Tetapi jika dipandang dari lanskap politik yang lebih luas, ladang itu sedang menghadapi kekuatan raksasa, yaitu konsesi sawit, izin tambang, land clearing proyek pangan, perhutanan sosial yang memotong hak masyarakat adat, hingga kebijakan iklim yang tidak pernah mendengar suara komunitas.

Dalam konteks seperti itu, manugal adalah tindakan politik. Ia adalah penegasan bahwa masyarakat berhak menentukan ritme hidupnya sendiri, yaitu kapan membuka lahan, kapan membakar secara terkendali, kapan menanam dan kapan panen. Semua itu tanpa izin DPRD, kementerian, investor, keamanan setempar atau program pemerintah.

Inilah PLD dalam bentuk paling konkret dimana rakyatlah yang memimpin, bukan dipimpin.

Ladang sebagai Sekolah Politik Generasi Baru. Ketika anak-anak ikut ke ladang, mereka tidak hanya belajar menugal. Mereka sedang belajar membaca politik ruang hidup. Mereka menyaksikan  bagaimana tanah dipertahankan, bagaimana kerja kolektif menjadi benteng, bagaimana yang dilawan bukan hanya hama tetapi ketidakadilan struktural.

Jika hari ini pemerintah berbicara tentang resiliensi pangan, adaptasi iklim atau ekonomi hijau, sesungguhnya masyarakat Dayak telah melakukan itu jauh sebelum istilahnya masuk ke dokumen negara.

Mereka tidak mengikuti kursus perubahan iklim. Mereka justru hidup dari perubahan itu setiap tahun. Mereka tidak menunggu pedoman ketahanan pangan karena mereka menciptakan sendiri sistem pangan yang bertahan ratusan tahun.

Benih Lokal sebagai Perisai Terakhir. Pola hujan kacau, kemarau memanjang, angin datang tiba-tiba. Tetapi padi ladang tetap tumbuh. Mengapa? Karena benih lokal memiliki semacam Memori Panjang, memori genetis, memori ekologis, memori spiritual yang tidak dimiliki benih industri.

Krisis iklim membuat dunia sibuk mencari teknologi canggih untuk bertahan. Ironisnya, jawaban itu sudah lama ada di ladang-ladang Dayak.

Handep, Ekonomi Solidaritas yang Menjamin Tidak Ada yang Lapar. Dalam manugal, kerja dilakukan bersama: keluarga, tetangga, kerabat, bahkan orang dari desa lain. Tidak ada upah. Tidak ada kontrak. Tidak ada borongan. Yang ada hanya handep, kerja bergilir berbasis solidaritas.

Handep adalah ekonomi yang tidak mengenal inflasi, tidak mengenal kemiskinan ekstrem, tidak mengenal kelaparan. Ia menjamin pangan, bukan dengan uang, tetapi dengan jaringan sosial.

Dengan kata lain, ketahanan pangan adalah hasil dari perjumpaan tangan, bukan angka statistik.

PLD Dayak itu Jalan Alternatif Pembangunan. People-Led Development sering menjadi konsep dalam ruang konferensi. Tetapi di ladang Dayak, ia menjadi praktik yang nyata, komunitas merencanakan sendiri, komunitas menentukan ritme, komunitas mengatur pembagian kerja, komunitas menentukan bentuk dan hasil.

Tidak ada target tonase. Tidak ada seragam. Tidak ada indikator proyek. Dan tidak ada laporan panjang seperti yang diminta mereka-mereka yang mendukung.

Namun hasilnya jelas, komunitas hidup, tanah hidup dan pangan pun cukup.

Jika dunia serius dengan pembangunan berkelanjutan, maka manugal seharusnya menjadi rujukan. Bukan Food Estate yang merusak hutan atas nama ketahanan pangan.

Belajar dari Tanah yang Bicara. Saat berdiri di tepi ladang Dayak, saya menyadari sesuatu yang mungkin terdengar sederhana, bahwa tanah selalu berbicara lebih jujur daripada dokumen kebijakan. Ia mencatat yang tumbuh dan yang rusak. Ia menyimpan memori orang-orang yang merawatnya dan memori mereka yang merusaknya. Di tanah hitam hasil bakaran semalam, saya belajar bahwa politik pangan bukanlah debat akademis, melainkan persoalan siapa yang boleh hidup dengan bermartabat.

Saya juga belajar bahwa ladang bukan sekadar tempat menanam padi, tetapi tempat merawat harapan. Dari perempuan, pemuda dan tetua Ma’anyan, saya memahami bahwa tradisi bukan peninggalan masa lalu. Ia adalah strategi bertahan hidup.

Ketika Manusia dan Tanah Menulis Masa Depan. Di tengah krisis iklim dan proyek pembangunan yang semakin menjauh dari rakyat, manugal adalah pengingat bahwa kekuatan nyata selalu lahir dari bawah. Bahwa resistensi tidak selalu berada di jalan-jalan kota, tetapi juga di ladang-ladang sunyi yang terus ditugal oleh tangan-tangan yang tak menyerah.

Jika dunia ingin belajar tentang masa depan pangan, maka belajarlah dari mereka yang selama ini tidak pernah didengar.

Karena masa depan itu sedang ditulis di ladang. Dengan benih. Dengan tangan-tangan yang saling membantu. Dengan keyakinan bahwa kehidupan harus dipimpin oleh manusia, bukan oleh kuasa yang ingin menguasai manusia

*Pegiat Agroekologi Kalimantan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.