HumaNusantara.com
Fakta Terpercaya dari Nusantara

Agroekologi, Filsafat Imanensi dari Tanah Dayak

Oleh: Sani Lake

0

Di tengah krisis iklim, kerusakan hutan dan ketimpangan pangan yang semakin terasa, dunia mulai mempertanyakan kembali cara manusia memperlakukan alam. Selama beberapa dekade terakhir, pembangunan pertanian didorong oleh logika produksi dimana tanah dipandang sebagai media tanam, benih sebagai komoditas dan petani sebagai operator dalam sistem ekonomi. Alam dijadikan objek yang harus diatur, ditaklukkan dan dimaksimalkan.

Namun jika kita menengok ladang masyarakat Dayak di Kalimantan, kita akan menemukan cara pandang yang berbeda, cara pandang yang mungkin justru menyimpan pelajaran penting bagi masa depan bumi.

Di ladang-ladang itu, pertanian tidak pernah berdiri sendiri. Tanah, air, hutan, benih, manusia, dan hewan membentuk jaringan kehidupan yang saling bergantung. Ladang bukan sekadar ruang produksi, melainkan ruang relasi.

Dalam bahasa filsafat, cara pandang ini sangat dekat dengan gagasan tentang imanensi.

Alam yang Hidup dari Dalam

Filsuf abad ke-17, Baruch Spinoza, pernah menulis bahwa segala sesuatu yang ada merupakan bagian dari satu realitas yang sama. Dalam karyanya Ethics, Spinoza menyatakan: “Whatever is, is in God, and nothing can be or be conceived without God” (Spinoza, 1677). Artinya, segala sesuatu berada dalam satu realitas yang tidak terpisah dari dirinya sendiri.

Dalam pandangan Spinoza, Tuhan tidak berdiri di luar alam. Tuhan adalah alam itu sendiri, Deus sive Natura. Alam bukan ciptaan yang terpisah dari sumbernya, melainkan ekspresi dari kehidupan yang sama.

Pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh filsuf abad ke-20, Gilles Deleuze. Bagi Deleuze, realitas bukan struktur yang kaku, tapi jaringan kehidupan yang terus bergerak dan saling terhubung. Dalam A Thousand Plateaus, Deleuze dan Félix Guattari menyebut dunia sebagai multiplicity, yakni keragaman relasi yang membentuk kehidupan (Deleuze & Guattari, 1987).

Di sini dunia bukan piramida dengan satu pusat kekuasaan, tapi jaringan dan relasi kehidupan.

Jika kita melihat ladang masyarakat Dayak dengan perspektif ini, maka kita akan memahami bahwa praktik pertanian mereka sebenarnya mencerminkan filsafat imanensi tersebut.

Ladang yang Tidak Pernah Sendiri

Bagi peladang Dayak, membuka ladang bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah bagian dari siklus kehidupan yang lebih luas.

Tanah tidak dianggap sebagai benda mati. Ia memiliki kehidupan yang harus dijaga. Hutan di sekitar ladang bukan sekadar cadangan kayu, melainkan penyangga ekosistem yang menjaga air dan kesuburan tanah. Benih yang ditanam bukan hanya hasil panen sebelumnya, tapi warisan kehidupan yang dipelihara dari generasi ke generasi.

Dalam ladang semacam ini, monokultur hampir tidak pernah menjadi pilihan. Yang tumbuh adalah kebun campur: padi berdampingan dengan sayur, buah, tanaman obat dan pohon kayu.

Keanekaragaman ini bukan kebetulan. Ia adalah bentuk pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam.

Dalam kerangka filsafat imanensi, praktik ini menunjukkan satu hal penting: kehidupan tidak dapat dipahami secara terpisah. Setiap unsur kehidupan saling mempengaruhi dan membentuk satu sama lain.

Deleuze bahkan menyebut realitas sebagai “a single clamour of being”, gema kehidupan yang sama yang muncul dalam berbagai bentuk (Deleuze, 1994).

Pengetahuan yang Tumbuh dari Tanah

Sering kali pengetahuan masyarakat adat dianggap sebagai sesuatu yang “tradisional” dan kurang ilmiah. Padahal jika kita melihat lebih dalam, pengetahuan ini justru lahir dari pengamatan ekologis yang sangat teliti.

Para peladang mengetahui tanda-tanda alam: arah angin, perubahan musim, perilaku burung, atau perubahan warna tanah. Dari pengalaman ini mereka menentukan waktu membuka ladang, menanam benih, dan memanen hasil.

Pengetahuan ini tidak disusun dalam bentuk rumus ilmiah. Ia hidup dalam praktik, cerita dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sinilah agroekologi menemukan relevansinya.

Agroekologi memandang pertanian bukan hanya sebagai teknik produksi, tetapi sebagai sistem kehidupan yang kompleks. Miguel Altieri, salah satu pelopor ilmu agroekologi, menekankan bahwa pertanian berkelanjutan harus dibangun di atas keanekaragaman hayati, pengetahuan lokal dan hubungan ekologis antara manusia dan alam (Altieri, 2018).

Dengan kata lain, agroekologi berusaha mengembalikan pertanian pada logika imanensi, logika kehidupan yang tumbuh dari dalam relasi alam itu sendiri.

Melampaui Logika Ekstraksi

Sebaliknya, paradigma pembangunan modern sering didorong oleh logika ekstraksi. Alam dipandang sebagai sumber daya yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Hutan ditebang untuk tambang, tanah diubah menjadi perkebunan monokultur, dan sungai dipaksa mengikuti logika industri.

Model pembangunan semacam ini memutus hubungan manusia dengan alam. Tanah kehilangan kesuburannya, air tercemar, dan komunitas lokal kehilangan ruang hidup mereka.

Di tengah krisis ekologis global, pendekatan seperti ini semakin dipertanyakan. Dan, agroekologi menawarkan arah yang berbeda.

Ia tidak hanya berbicara tentang teknik pertanian, tetapi tentang cara hidup yang menghormati hubungan antara manusia dan bumi.

Pelajaran dari Tanah Dayak

Ladang-ladang masyarakat Dayak menunjukkan bahwa pertanian dapat berjalan tanpa merusak keseimbangan alam. Keanekaragaman tanaman menjaga kesuburan tanah, hutan tetap berdiri sebagai penyangga ekosistem dan benih lokal terus dipelihara sebagai sumber kehidupan. Dan, praktik ini mungkin sungguh tampak sederhana, tapi ia menyimpan pelajaran besar.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh logika ekonomi, ladang-ladang ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Disana tanah hidup bersama air. Air hidup bersama hutan dan hutan hidup bersama manusia. Sedangkan manusia hanya bisa bertahan jika hubungan-hubungan itu tetap dijaga.

Seperti diingatkan oleh Spinoza, kebijaksanaan manusia tidak terletak pada menguasai alam, tetapi pada memahami tempatnya di dalam keseluruhan kehidupan. Barangkali pelajaran itu masih hidup di ladang-ladang kecil di Kalimantan.

Di sana, di antara padi yang tumbuh bersama rumput liar dan pohon-pohon hutan, kita dapat melihat bahwa masa depan bumi mungkin tidak terletak pada teknologi yang semakin besar, tetapi pada cara manusia belajar kembali hidup bersama tanah.

Karena pada akhirnya, seperti yang dipahami oleh para peladang sejak lama, bahwa tanah itu sesungguhnya tidak pernah sendiri.

Referensi

Altieri, M. (2018). Agroecology: The Science of Sustainable Agriculture. CRC Press.

Deleuze, G. (1994). Difference and Repetition. Columbia University Press.

Deleuze, G., & Guattari, F. (1987). A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia. University of Minnesota Press.

Spinoza, B. (1677). Ethics.

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.