HumaNusantara.com
Fakta Terpercaya dari Nusantara

“Bukan Sekadar Kanker Darah”, Dosen Fakultas Kedokteran UPR dan Prodia Buka Wawasan Baru Penanganan Leukemia

0

PALANGKA RAYA,humanusantara – Leukemia yang selama ini dikenal sebagai “Kanker Darah”, ternyata masih menyisakan banyak kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Untuk meluruskan berbagai mitos sekaligus membuka wawasan baru tentang penanganan penyakit itu, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang inspiratif telah di selenggarakan di Palangka Raya bekerja sama dengan Prodia, menggelar seminar awam.

Adapun  seminar yang bertajuk “Bukan Sekadar Kanker Darah: Menguak Fakta dan Harapan Baru dalam Penanganan Leukemia”, berlangsung di Hotel Best Western Batang Garing Palangka Raya, beberapa waktu lalu.

Kegiatan seminar tersebut berhasil menarik perhatian dan diikuti 60 peserta dari berbagai kalangan. Antusiasme yang luar biasa tersebut menunjukkan betapa pentingnya edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Meluruskan Mitos, Menghadirkan Fakta

Sebagai narasumber utama dalam seminar itu, dr Lia Sasmithae, Sp.PD, SubSp. (K) H.Onk.M, FINASIM, yang juga merupakan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya dan anggota PAPDI.

Dalam kesempatan itu Lia memaparkan materi dengan bahasa yang mudah dicerna serta fokus utama meluruskan mitos yang beredar, terutama anggapan, bahwa leukemia adalah penyakit keturunan.

Dijelaskan, mayoritas kasus leukemia bersifat sporadis, artinya terjadi secara acak dan bukan diturunkan langsung dari orang tua.

“Perubahan genetik yang memicu leukemia umumnya terjadi selama hidup, bukan sejak lahir. Ini adalah fakta penting yang harus dipahami masyarakat agar tidak ada ketakutan yang tidak beralasan,” kata Lia.

Kunci Utama: Deteksi Dini dan Diagnosis Akurat

Lebih lanjut dalam seminar tersebut Lia menekankan pentingnya mengenali tanda dan gejala dini leukemia, seperti pucat, mudah lelah, demam berulang dan mudah memar.

Jika gejala itu menetap, langkah pertama yang harus dilakukan adalah konsultasi ke dokter dan melakukan Pemeriksaan Darah Lengkap (PDL).

Namun, diagnosis definitif tidak berhenti di situ, peserta diedukasi mengenai pemeriksaan lanjutan yang menjadi “Standar Emas” diagnosis, yaitu Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang.

Selain itu, kemajuan teknologi kini memungkinkan diagnosis yang lebih presisi melalui pemeriksaan Imunofenotip dan Pemeriksaan Genetik (FISH, PCR, NGS).

“Pemeriksaan genetik ini sangat krusial. Ini bukan hanya untuk memastikan diagnosis, tetapi juga untuk menentukan strategi pengobatan yang paling personal dan efektif bagi pasien, atau yang kita sebut personalized medicine,” jelasnya.

Harapan Baru dari Perkembangan Terapi

Sementara itu bagian yang paling menarik perhatian peserta, dimana Lia memberikan pemaparan mengenai perkembangan terapi terkini. Leukemia bukan lagi vonis mati, berkat kemajuan pesat dalam ilmu kedokteran.

Lia menjelaskan berbagai modalitas terapi, mulai dari kemoterapi konvensional hingga pendekatan modern seperti Terapi Target dan Imunoterapi, yang bekerja lebih spesifik pada sel kanker dengan efek samping yang lebih minimal.

Selain itu, informasi mengenai Transplantasi Sumsum Tulang (TSBT) juga disampaikan. TSBT, baik menggunakan sel punca pasien sendiri (Autologus) maupun dari donor (Allogenik).

“Ini merupakan salah satu harapan kuratif yang kini semakin mudah diakses di beberapa pusat rujukan nasional di Indonesia,” paparnya.

Bukti Nyata Peningkatan Pengetahuan

Adapun sebagai bagian akhir dari seminar tersebut, maka dilakukan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test kepada 60 peserta, untuk mengukur efektivitas seminar.

Hasilnya sangat memuaskan, dimana rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat secara signifikan sebesar 31.7 persen, dari 53.3 persen pada pre-test menjadi 85 persen pada post-test. Peningkatan tertinggi, yaitu sebesar 40 persen, terjadi pada pemahaman peserta tentang perkembangan terapi terkini.

Disimpulkan dari hasil ini membuktikan, seminar awam dengan narasumber spesialis, adalah metode yang sangat efektif untuk mentransfer informasi medis yang kompleks kepada masyarakat umum.

Kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan, tetapi juga memberikan harapan dan mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam deteksi dini dan penanganan penyakit leukemia.

Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat di Kalimantan Tengah. (ist/hns1/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.