Natal di Lewu Kecil

Imajinasi tentang Masa Depan Kalimantan

Oleh: Sani Lake

Natal selalu berbicara tentang permulaan. Tentang sesuatu yang lahir kecil, nyaris tak diperhitungkan, namun membawa daya ubah yang besar. Pesan Natal bersama PGI-KWI tahun ini, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (bdk. Matius 1:21–24), mengajak kita menengok kembali ruang paling dasar dari kehidupan bersama, yaitu keluarga. Namun bagi Kalimantan, ajakan ini lebih dari sekadar refleksi iman. Ia adalah undangan untuk membayangkan ulang masa depan dari tempat yang paling sering diabaikan, yakni lewu-lewu kecil.

Di tengah gegap gempita proyek besar, wacana pembangunan dan peta investasi yang digambar dari kejauhan, Kalimantan kerap diperlakukan sebagai ruang kosong. Tanahnya dilihat sebagai cadangan sumber daya, hutannya sebagai komoditas dan sungainya sebagai jalur logistik. Dalam imajinasi semacam itu, keluarga-keluarga kecil yang hidup di kampung adat, di tepi sungai, di pedalaman atau di permukiman transmigran, sering kali hanya menjadi catatan kaki atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Padahal di situlah kehidupan Kalimantan yang sesungguhnya dijalani dan diwariskan.

Natal mengganggu cara pandang itu. Kelahiran Yesus tidak terjadi di pusat kekuasaan, melainkan di pinggiran. Bukan di istana, tetapi di ruang keluarga yang sederhana dan rapuh. Injil tidak sedang mengisahkan romantisme kemiskinan, melainkan menyampaikan pesan teologis yang radikal, bahwa Allah memilih hadir dalam skala kecil, dalam relasi, dalam keluarga yang hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Dari sana, keselamatan bertumbuh perlahan, bukan sebagai ledakan spektakuler, tetapi sebagai daya hidup yang setia.

Bagi Kalimantan, pesan ini relevan secara mendalam. Lewu-lewu kecil hari ini memikul beban yang berat. Tekanan ekonomi memaksa banyak orangtua bekerja jauh dari rumah. Anak-anak tumbuh dengan kehadiran yang terfragmentasi. Jeratan pinjaman online dan judi daring menyusup ke ruang keluarga, memicu konflik dan rasa putus asa. Kekerasan dalam rumah tangga sering tersembunyi di balik budaya diam. Di saat yang sama, kerusakan ekologis, pencemaran sungai, hilangnya hutan, menyempitnya ladang, menggerus fondasi hidup keluarga dari hari ke hari.

Namun Natal tidak berhenti pada pembacaan krisis. Ia membuka ruang imajinasi. Imajinasi bukan pelarian dari realitas, melainkan keberanian untuk membayangkan kemungkinan lain di tengah situasi yang tampak buntu. Dengan mengatakan “Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga,” Natal mengajak kita membayangkan masa depan Kalimantan yang tidak dimulai dari megaproyek, melainkan dari pemulihan relasi di dalam keluarga dan komunitas kecil.

Dalam banyak kebudayaan Dayak, keluarga tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan tanah, air, hutan dan komunitas. Relasi ini bukan sekadar ekonomi, tetapi spiritual dan kultural. Ketika tanah rusak, keluarga kehilangan identitas dan arah. Ketika sungai tercemar, dapur keluarga ikut terancam. Maka menyelamatkan keluarga berarti juga menyelamatkan ruang hidupnya. Natal, dalam konteks ini, menjadi peristiwa iman yang ekologis dan politis sekaligus, karena ia menyentuh cara manusia memperlakukan sesama dan alam.

Pesan Natal PGI-KWI menempatkan keluarga sebagai cermin kasih Allah. Namun cermin ini tidak selalu bersih dan utuh. Banyak keluarga hari ini retak, lelah dan kehilangan harapan. Justru di sanalah Natal menemukan kekuatannya. Allah tidak menunggu keluarga menjadi sempurna untuk hadir. Ia datang ke rumah-rumah yang rapuh, ke relasi yang retak, ke ruang-ruang yang nyaris kehilangan cahaya. Keselamatan, dalam terang Natal, bukan hadiah bagi yang kuat, melainkan napas baru bagi yang hampir menyerah.

Di sinilah Gereja dipanggil untuk mengambil peran yang lebih berani. Gereja tidak cukup hadir sebagai penutur nilai moral, tetapi sebagai sahabat perjalanan keluarga-keluarga kecil. Pendampingan pastoral tidak boleh berhenti pada kata-kata penghiburan, melainkan menjelma dalam tindakan nyata, mendampingi korban kekerasan tanpa menyalahkan, melindungi anak-anak dari eksploitasi digital, memperkuat etika dan iman di tengah arus teknologi yang seringkali tidak ramah pada yang lemah, serta membangun solidaritas ekonomi berbasis komunitas.

Bagi JPIC Kalimantan, membayangkan masa depan berarti memulihkan hubungan antara iman, keadilan, dan keutuhan ciptaan. Keluarga yang diselamatkan bukan hanya keluarga yang rukun secara internal, tetapi keluarga yang memiliki ruang hidup yang layak, pangan yang sehat, air yang bersih, dan lingkungan yang aman. Tanpa itu semua, keluarga akan terus berada dalam siklus kerentanan, betapapun kuatnya nasihat moral yang diberikan.

Natal juga mengajak kita membaca ulang makna pembangunan. Jika masa depan Kalimantan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan angka investasi, maka keluarga-keluarga kecil akan terus menjadi korban. Tetapi jika masa depan dibayangkan dari lewu-lewu kecil, yakni dari dapur keluarga, ladang, kebun, dan sungai, maka pembangunan harus bertanya, apakah kebijakan ini membuat keluarga lebih utuh? Apakah ia memberi ruang bagi anak-anak untuk bertumbuh dengan aman? Apakah ia menjaga relasi manusia dengan alam?

Dalam pengertian ini, Natal adalah peristiwa politis dalam arti yang paling mendasar, ia menantang logika kekuasaan yang mengabaikan yang kecil. Dengan memilih lahir dalam keluarga sederhana, Allah menyatakan bahwa masa depan tidak dibangun dari atas ke bawah, melainkan dari bawah ke atas, dari relasi yang dirawat, dari komunitas yang saling menopang, dari keluarga yang diberi ruang untuk hidup bermartabat.

Menjelang akhir tahun dan memasuki yang baru, Natal mengajak Kalimantan untuk berani bermimpi secara berbeda. Bukan mimpi tentang kota-kota megah yang terputus dari kampungnya, tetapi mimpi tentang lewu-lewu kecil yang hidup, berdaulat dan saling terhubung. Mimpi tentang keluarga-keluarga yang tidak ditinggalkan sendirian menghadapi krisis, melainkan didampingi oleh Gereja, negara dan masyarakat sipil yang berpihak.

Natal di lewu kecil mengajarkan bahwa harapan tidak pernah lahir dari kemegahan, tetapi dari kesetiaan. Dari orangtua yang tetap menanam meski tanah semakin sempit. Dari ibu yang merawat keluarga di tengah kecemasan ekonomi. Dari anak-anak yang belajar mencintai tanah dan sungai sebagai bagian dari hidup mereka. Dari komunitas yang memilih berbagi di tengah keterbatasan.

Di sanalah imajinasi tentang masa depan Kalimantan menemukan akarnya. Bukan sebagai utopia yang jauh, tetapi sebagai proses panjang merawat kehidupan dari yang kecil. Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak bekerja melalui jalan pintas, melainkan melalui kehadiran yang setia. Dan selama lewu-lewu kecil masih dirawat, selama keluarga-keluarga kecil masih berjuang menjaga kasih dan harapan, masa depan Kalimantan belum selesai, ia masih mungkin diselamatkan.

Selamat Natal 2025 menjelang Tahun Baru 2026

 

 

Comments (0)
Add Comment