PALANGKA RAYA,humanusantara – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Tengah, yang direncanakan berlangsung pada 29-30 November 2025, dinamika internal partai turut menguat.
Hal tersebut disampaikan H Muhammad Rizal, politisi Partai Golkar, yang juga Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD Partai Golkar Kalimantan Tengah, dalam keterangannya mengenai proses yang sedang berlangsung di internal Golkar, Senin (24/11/2025).
Rizal mengatakan, kompetisi antarkader menjelang musda merupakan hal yang wajar dalam tradisi organisasi.
“Partai Golkar adalah partai kader. Setiap menjelang kontestasi musda, wajar dan logis jika para kader muncul dan berkompetisi meraih pucuk pimpinan,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, Golkar sebagai partai besar yang telah berusia 61 tahun selalu menegakkan prinsip demokrasi. Para kader yang ingin maju dalam musda mengikuti mekanisme partai, memenuhi syarat dan kriteria, serta membangun komunikasi dengan voter kabupaten/kota maupun organisasi pendiri dan yang didirikan.
“Itulah bagian dari proses. Di tahap awal, dinamika pasti muncul. Ada saling klaim dukungan, membaca situasi, hingga menganalisis perkembangan politik pusat dan daerah,” ujarnya.
Mantan Anggota DPRD Kalimantan Tengah itu juga membeberkan, DPP Partai Golkar turut mencermati dinamika yang terjadi tersebut. Menurutnya, persaingan yang terlalu ketat dapat menimbulkan ketegangan internal.
“DPP melihat jika persaingan kandidat terlalu masif, bisa memunculkan keretakan, distorsi, bahkan konflik antarpendukung. Ini tentu tidak menguntungkan bagi perkembangan partai ke depan,” ungkapnya.
Untuk menjaga kekompakan, para tokoh Partai Golkar dari tingkat kabupaten, kota, provinsi hingga pusat melakukan langkah mediasi.
Dua kandidat yang disebut memiliki dukungan kuat, Fairid Naparin serta Edy Pratowo, dipertemukan agar tidak terjadi polarisasi yang berkepanjangan.
“Kedua kader ini dipertemukan dengan asas musyawarah mufakat. Mereka disatukan agar rukun, tidak saling menjatuhkan, dan fokus membesarkan Partai Golkar,” tegasnya.
Proses mediasi tersebut, ungkap Rizal, merupakan bagian dari komitmen Golkar dalam menjaga budaya musyawarah sebagai mekanisme penyelesaian perbedaan pandangan di internal organisasi.
Dengan adanya titik temu antara kedua kandidat, persiapan musda XI disebut berjalan lebih solid. Panitia pengarah dan panitia pelaksana telah terbentuk dan mulai menyusun seluruh rangkaian kegiatan.
“Insyaallah musda XI bisa dilaksanakan dalam waktu dekat dan akan dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar bersama tokoh nasional lainnya,” tukasnya.
Ia juga menegaskan, seluruh proses yang berjalan mencerminkan mekanisme pengambilan keputusan kolektif di tubuh Partai Golkar.
“Itulah tata cara pengambilan keputusan di Partai Golkar. Jadi tidak ada istilah calon tunggal,” demikian Rizal. (hns1/red)